• judi

    Kenali Tanda Toxic Relationship sejak Dini


    Hubungan adalah bagian penting dalam kehidupan kita, dan saat berjalan dengan baik, mereka dapat memberikan dukungan emosional, kebahagiaan, dan kualitas hidup yang lebih baik. Namun, tidak semua hubungan adalah sumber kebahagiaan dan kesejahteraan. Beberapa hubungan bisa menjadi sumber stres, cemas, dan ketidakbahagiaan. Hubungan seperti ini sering kali disebut sebagai “toxic relationship.”

     

    Apa yang dimaksud dengan toxic relationship? Toxic relationship adalah hubungan yang merugikan salah satu atau kedua pihak yang terlibat. Hubungan semacam ini dapat merusak kesehatan mental dan emosional seseorang dan mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. Identifikasi tanda-tanda toxic relationship adalah langkah pertama yang penting untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut. Dalam artikel ini, kita akan membahas tanda-tanda utama dari toxic relationship dan bagaimana melepaskan diri dari hubungan yang merugikan ini.

     

    1. Tanda Toxic Relationship

    1.1 Tidak Merasa Nyaman

     

    Tanda pertama dari toxic relationship adalah perasaan ketidaknyamanan yang mendalam. Anda seharusnya merasa nyaman dan aman dalam hubungan Anda. Namun, dalam toxic relationship, perasaan tersebut seringkali tergantikan oleh ketidaknyamanan yang berkelanjutan. Pasangan Anda mungkin memiliki perilaku yang merendahkan Anda secara emosional, seperti menghina, merendahkan, atau menyalahkan Anda. Mereka bisa menjadi agresif secara verbal atau bahkan fisik. Ketika Anda merasa tegang, cemas, atau takut di sekitar pasangan Anda, itu adalah tanda yang perlu diwaspadai.

     

    Saat Anda merasa tidak nyaman dalam hubungan, perhatian Anda seringkali terbagi antara merasa takut dengan pasangan Anda dan merasa takut kehilangan hubungan itu. Anda mungkin mulai membenarkan perilaku mereka atau meremehkan tindakan yang merugikan Anda. Ingatlah bahwa setiap hubungan yang sehat memungkinkan Anda merasa aman, dihormati, dan diterima apa adanya.

     

    1.2 Merasa Diasingkan

    Toxic relationship seringkali menciptakan isolasi sosial. Anda mungkin merasa terputus dari teman-teman dan keluarga Anda karena pasangan Anda membatasi akses Anda kepada mereka. Mereka mungkin melihat teman-teman dan keluarga sebagai ancaman potensial bagi hubungan Anda, sehingga mereka berusaha untuk menjauhkan Anda dari lingkaran sosial Anda yang sebelumnya mendukung dan mendalam.

     

    Isolasi seperti ini bisa sangat merugikan. Anda mungkin merasa terkunci dalam hubungan yang merugikan tanpa dukungan sosial yang diperlukan untuk keluar dari situasi tersebut. Teman-teman dan keluarga Anda mungkin telah mengamati perubahan perilaku Anda dan bisa menjadi sumber dukungan penting saat Anda mencoba keluar dari toxic relationship. Mereka dapat membantu Anda memahami bahwa ada alternatif lain yang lebih sehat untuk menjalani hidup Anda.

     

    Baca Juga: Tips Self Reward yang Nggak Bikin Dompet Boncos

     

    1.3 Jati Diri Menghilang

    Toxic relationship seringkali membuat individu kehilangan jati diri mereka. Anda mungkin merasa perlu untuk berubah atau menekan aspek-aspek dari diri Anda untuk memenuhi ekspektasi pasangan Anda. Anda mungkin merasa sulit untuk mengidentifikasi siapa Anda sebenarnya karena peran yang Anda mainkan dalam hubungan telah mengaburkan jati diri Anda.

     

    Penting untuk diingat bahwa dalam hubungan yang sehat, Anda tidak perlu mengorbankan identitas Anda. Anda dapat tetap menjadi diri Anda sendiri, dengan keunikan, minat, dan tujuan Anda sendiri. Kehilangan jati diri adalah tanda bahwa hubungan telah merubah Anda menjadi sosok yang tidak lagi Anda kenali. Saat Anda mulai menemukan kembali jati diri Anda setelah melepaskan toxic relationship, ini adalah langkah pertama menuju pemulihan dan kebahagiaan.

     

    1.4 Terlalu Dikontrol

    Pengendalian yang berlebihan adalah tanda klasik dari toxic relationship. Pasangan Anda mungkin mencoba mengendalikan setiap aspek kehidupan Anda, termasuk teman-teman yang Anda ajak bicara, aktivitas yang Anda lakukan, dan bahkan pakaian yang Anda kenakan. Mereka mungkin cemburu secara berlebihan, mengawasi setiap gerakan Anda, atau bahkan membatasi kebebasan Anda dengan aturan-aturan yang sangat ketat.

     

    Pengendalian yang berlebihan adalah tanda dari ketidakseimbangan kekuasaan dalam hubungan. Ini menciptakan ketidaksetaraan dan membuat Anda kehilangan kontrol atas hidup Anda. Anda mungkin merasa diperlakukan seperti anak kecil yang harus selalu meminta izin atau pernyataan persetujuan dari pasangan Anda. Ini bukanlah dasar yang sehat untuk hubungan yang penuh cinta dan penghargaan.

     

    Mengidentifikasi dan mengakui tanda-tanda ini adalah langkah pertama dalam memulihkan diri dari toxic relationship. Ketika Anda menyadari bahwa hubungan Anda merugikan, Anda dapat mulai mengambil tindakan untuk mengakhiri hubungan tersebut dan memulihkan diri Anda. Ingatlah bahwa Anda tidak sendirian dalam proses ini, dan banyak sumber daya dan dukungan tersedia untuk membantu Anda melepaskan diri dari hubungan yang merugikan dan menjalani kehidupan yang lebih sehat dan bahagia.

     

    2. Cara Lepas Toxic Relationship

    Setelah Anda mengenali tanda-tanda toxic relationship dalam hubungan Anda, langkah selanjutnya adalah melepaskan diri dari hubungan yang merugikan ini. Ini adalah langkah yang penting untuk mendapatkan kembali kesehatan mental, emosional, dan fisik Anda. Namun, melepaskan hubungan bisa menjadi proses yang sulit dan menantang. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat membantu Anda melepaskan toxic relationship:

     

    2.1 Akui Ada Masalah Dalam Hubungan

    Langkah pertama dalam melepaskan toxic relationship adalah mengakui bahwa ada masalah dalam hubungan Anda. Terimalah kenyataan bahwa hubungan ini merugikan Anda dan bahwa Anda memiliki hak untuk hidup bahagia dan sehat. Jangan menyalahkan diri sendiri atau merasa bersalah; ini bukan kesalahan Anda.

     

    2.2 Belajar Menghargai Diri Sendiri

    Penting untuk meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri Anda. Ingatlah bahwa Anda layak mendapatkan hubungan yang sehat dan penuh cinta. Fokus pada pemulihan diri dan menjaga kesehatan mental Anda. Ini mungkin melibatkan perawatan diri, seperti yoga, meditasi, atau terapi.

     

    2.3 Beri Tahu Orang Terdekat

    Berbicaralah dengan teman dan keluarga yang Anda percayai. Mereka dapat memberikan dukungan emosional dan praktis dalam proses pemulihan Anda. Mungkin teman-teman dan keluarga sudah lama melihat tanda-tanda toxic relationship dan akan bersedia membantu Anda keluar dari situasi ini.

     

    Baca Juga: Ini Rahasia Masak Lezat Tanpa Menguras Dompet

     

    2.4 Luangkan Waktu untuk Diri Sendiri

    Setelah Anda memutuskan hubungan, penting untuk fokus pada pemulihan diri. Luangkan waktu untuk diri sendiri dan lakukan aktivitas yang Anda nikmati. Ini dapat membantu Anda mengembalikan keseimbangan dalam hidup Anda dan merawat diri sendiri.

     

    2.5 Berhenti Bicara dengan Pasangan

    Setelah Anda memutuskan hubungan, berhentilah berkomunikasi dengan pasangan Anda. Ini mungkin sulit, terutama jika ada ikatan emosional yang kuat, tetapi ini adalah langkah penting dalam pemulihan. Batasi kontak sebanyak mungkin dan berfokus pada diri sendiri.

     

    2.6 Cari Bantuan Profesional

    Jika Anda merasa kesulitan untuk melepaskan hubungan yang toksik, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari seorang terapis atau konselor yang berpengalaman. Terapis dapat memberikan dukungan, panduan, dan alat untuk membantu Anda mengatasi konsekuensi emosional dari hubungan tersebut dan menjalani hidup yang lebih sehat.

     

    Baca Juga: Hidup Hemat untuk Kaum Milenial, Gimana Tuh?

     

    2.7 Buat Rencana Keamanan

    Jika Anda merasa bahwa pasangan Anda dapat menjadi ancaman bagi keselamatan Anda, penting untuk membuat rencana keamanan. Ini mungkin melibatkan perencanaan tempat tinggal yang aman, menghubungi penyedia layanan bantuan, dan memberikan informasi dengan teman dan keluarga.

     

    Saat Anda melepaskan toxic relationship, ingatlah bahwa itu adalah langkah positif dan berani. Anda layak mendapatkan hubungan yang sehat, bahagia, dan mendukung. Memutuskan hubungan yang merugikan adalah langkah pertama menuju pemulihan dan kebahagiaan.

     

    BFI Finance adalah perusahaan yang melayani pinjaman multiguna jaminan bpkb motor, bpkb mobil, dan sertifikat rumah atau ruko

  • judi

    Toxic Positivity, Penyangkalan Emosi Negatif yang Berbahaya


    Berpikir positif merupakan sesuatu yang baik. Hanya saja, jika dilakukan secara berlebihan dapat menjadi boomerang yang justru mengancam kesehatan mental kita.

    Istilah ini lazim disebut dengan toxic positivity. Toxic positivity adalah suatu kondisi di mana seseorang menolak untuk merasakan emosi negatif yang menghampirinya dan terus menerus menekan emosi tersebut dengan cara tetap berpikir positif.

    Tidak hanya itu, toxic positivity juga bisa diartikan sebagai kata penyemangat atau motivasi yang memiliki efek beracun dan merusak karena kata-kata yang terlontar justru menyakiti lawan bicara.

    Untuk memudahkan Anda dalam memahami toxic positivity, efek negatif, serta tips menghindarinya, mari kita simak penjelasan berikut ini.

    Apa Itu Toxic Positivity?

    Istilah toxic positivity belakangan ini cukup sering digunakan terutama saat tengah membahas tentang kesehatan mental.

    Toxic positivity adalah suatu tindakan di mana seseorang menyangkal emosi negatif yang ia rasakan. Contohnya rasa marah, kesal, sedih, kecewa, dan lain sebagainya. Emosi ini sengaja ditekan karena dianggap sebagai hal buruk atau emosi yang perlu disembunyikan.

    Sayangnya, jika emosi ini terus menerus ditekan dalam kurun waktu yang lama, emosi tersebut akan sangat berbahaya dan menyebabkan hal yang cukup fatal.

    Hal ini dikarenakan penyangkalan terhadap emosi negatif yang dirasakan seseorang akan mengakibatkan beragam masalah kesehatan. Diantaranya yaitu stres, gangguan tidur, kecemasan, perasaan sedih yang berkepanjangan, depresi, penggunaan obat terlarang, bahkan PTSD (post-traumatic stress disorder).

    Selain terhadap diri sendiri, toxic positivity juga bisa datang dari orang lain. Contoh sederhananya yaitu pada saat kita bercerita tentang hal sulit yang kita lalui. Alih-alih mendapat kata motivasi yang membantu menenangkan pikiran, lawan bicara kita justru melontarkan kalimat yang menyakitkan.

    Beberapa ekspresi yang kerap digunakan dalam toxic positivity antara lain, “Jangan menyerah, masih banyak orang lain yang lebih susah”, “masalahmu tidak ada apa-apanya ketimbang si A”, “Anda masih lebih mending, dulu saya jauh lebih sulit”.

    Meskipun terkesannya sepele, kalimat tersebut memiliki dampak yang cukup berpengaruh terhadap cara pandang kita pada diri sendiri, perasaan rendah diri, merasa emosi yang muncul tidak valid, dan lain sebagainya. Hal ini tentunya berpotensi meracuni kita yang berujung pada gangguan kesehatan mental.

    Bagaimana Cara Mengenali Toxic Positivity?

    Toxic positivity dapat dikenali dari cara bicara seseorang, tepatnya dari kata-kata yang dilontarkan. Mungkin orang tersebut memang berniat baik untuk memberikan motivasi terhadap lawan bicaranya namun tanpa ia sadari yang keluar dari ucapannya justru kata-kata yang merendahkan dan membuat orang sakit hati.

    Adapun ciri lainnya dari toxic positivity bisa kita lihat seperti di bawah ini.

    1. Tidak Jujur Dengan Perasaan Diri Sendiri / Bersikap Denial

    Toxic positivity adalah sebuah sikap di mana kita merespon apa yang kita rasakan secara berlebihan. Hal ini menimbulkan keengganan untuk mengakui apa yang sebenarnya kita rasakan karena beranggapan jika emosi negatif tidak sebaiknya dirasakan.

    Contohnya berpura-pura bahagia padahal sedang mengalami rasa sedih yang teramat.

    2. Cenderung Menghindari Masalah

    Ciri yang kedua jika seseorang tengah mengalami toxic positivity yaitu ada kecenderungan untuk menghindari masalah. Hal ini dikarenakan masalah yang muncul dalam hidupnya cenderung membawa emosi negatif seperti perasaan kecewa, marah, kesal, sedih, dan lain sebagainya.

    Alhasil, demi menghindari perasaan negatif yang timbul dari adanya masalah tersebut, oarang tersebut akan berusaha untuk menghindari masalah yang ada dan berpikir bahwa masalah tersebut tidak benar-benar terjadi.

    3. Memberikan Motivasi yang Justru Menyakiti Orang Lain

    Ciri berikutnya dari orang yang mengalamitoxic positivity yaitu cenderung menghakimi orang lain lewat kata-kata yang keluar dari mulutnya.

    Pernahkah Anda bercerita kepada seseorang atau curhat namun bukannya menjadi tenang tapi justru semakin gelisah dan sakit hati karena dihakimi atau dibanding-bandingkan? Hal tersebut merupakan ciri-ciri dari toxic positivity! 

    4. Suka Membandingkan Diri Sendiri Dengan Orang Lain

    Hati-hati jika suka membandingkan diri dengan orang lain. Kebiasaan ini adalah satu tanda seseorang mengalami toxic positivity!

    Misalnya, saat hendak memotivasi orang lain, mereka yang memiliki toxic positivity cenderung membandingkan lawan bicaranya dengan orang lain yang mereka anggap mengalami kejadian yang lebih parah seperti “Lihat, dia saja yang tidak sempurna bisa melakukannya,  masa Anda tidak?”, “Sebetulnya Anda itu mampu tapi sayang sekali mudah menyerah.”

    5. Kesulitan Dalam Mengontrol Emosi

    Ciri yang kelima yaitu kesulitan dalam mengontrol emosi. Orang dengan toxic positivity cenderung berpikiran segala sesuatunya harus dihadapi dengan positif dan tanpa sadar merasa kesulitan untuk memahami emosi yang terjadi pada dirinya sehingga lebih mudah merasa cemas, was-was, dan tidak tenang.

    Toxic Positivity

    Image Source: Pexels/Liza Summer

    Efek Negatif Adanya Toxic Positivity

    Jika terus menerus dibiarkan, toxic positivity memiliki efek yang sangat serius. Efek tersebut antara lain sebagai berikut.

    1. Mudah terkena stres

    2. Merasa paling benar

    3. Mengalami kesulitan dalam bersosialisasi

    4. gangguan kesehatan mental

    5. Mudah merasa gelisah dan penakut (anxiety)

    Tips Menghindari Toxic Positivity

    Untuk menghindari sikap toxic ini, Anda bisa mengikuti 5 tips bermanfaat berikut ini.

    1. Jujur Terhadap Perasaan Diri Sendiri

    Jujur memiliki arti merasakan dengan sepenuh hati emosi yang tengah kita rasakan. Apapun itu emosinya; sedih, senang, marah, kecewa, semua emosi tersebut adalah sesuatu yang normal dirasakan oleh manusia.

    Kita bisa meluapkan apa yang tengah dirasakan dengan berbicara atau curhat pada orang terdekat yang bisa kita percaya. Jika hal itu kurang membuat Anda nyaman, Anda bisa menuliskannya di buku atau catatan pribadi.

    Perbanyakn juga emotional support dari mereka yang memang mengerti kondisi kita dengan pandangan yang objektif, hindari berinteraksi dengan orang-orang yang sekiranya memberikan toxic positivity.

    2. Berusaha Untuk Memahami

    Berusahalah memahami diri sendiri dan orang di sekitar kita, cobalah untuk mendengarkan. Jika seandainya kita tidak mampu memberikan solusi, cobalah untuk menghindari kata-kata yang kurang mengenakan.

    Sebab, satu kata yang kurang sesuai dapat memberikan efek yang menyakitkan bagi pendengar. Jangan pula merasa perlu mengadu nasib saat seseorang bercerita pada kita. Pahami bahwa kita tidak bisa mengontrol orang lain. Lebih baik kita menjadi pendengar yang baik, bertanya apa yang tengah dirasakan, daripada kita berusaha memberikan solusi.

    3. Hindari Membandingkan-Bandingkan Diri Dengan Orang Lain

    Berhentilah membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sebab, apa yang dihadapi oleh diri kita dan orang lain adalah sesuatu yang berbeda, kita tidak akan pernah bisa merasakan sepenuhnya apa yang sedang dihadapi orang lain.

    4. Kurangi Konsumsi Sosial Media

    Terlalu sering bermain sosial media terbukti dapat menyebabkan stres. Hal ini dikarenakan postingan yang ada terkait kebahagiaan dan sesuatu yang nampak baik-baik saja dapat menimbulkan perasaan insecure dan mulai membanding-bandingkan kehidupan orang lain dengan diri sendiri.

    Tidak hanya itu, terlalu sering bermain sosial media juga dapat menganggu kesehatan tubuh kita salah satunya yaitu mata akibat terlalu sering menatap layar.

    Hindari orang-orang yang sering membuat postingan negatif atau justru memprovokasi (triggering) emosi Anda. Selalu tanamkan dalam diri jika apa yang kita lihat di dunia maya tidak sepenuhnya benar karena setiap orang selalu ingin memiliki image atau citra diri yang baik.

    Di samping itu, ketimbang menghabiskan banyak waktu untuk bermain sosial media, Anda bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan aktivitas produktif nan positif. Seperti halnya mengembangkan hobi atau belajar hal baru.

    5. Berdamai Dengan Diri Sendiri

    Tips yang terakhir sekaligus menjadi salah satu tips yang terpenting yaitu berdamai dengan diri sendiri.  Belajar memahami, menghargai, serta mencintai diri sendiri sebaik mungkin, salah satu caranya yaitu dengan mendengarkan isi hati.

    Jika kita sulit memahami dan berdamai dengan diri sendiri, bagaimana mungkin kita bisa menolong dan memahami orang lain?

    Sobat BFI, itulah penjelasan artikel kali ini mengenai toxic positivity. Tidak apa-apa jika kita merasa tidak baik-baik saja, apa yang Anda rasakan adalah emosi yang valid. Tidak perlu menyangkalnya ataupun pura-pura bahagia.

    Jika Anda membutuhkan pinjaman dana cepat untuk kesehatan maupun kebutuhan mendesak lainnya, Anda bisa mengajukannya di BFI Finance!

    Klik laman web di bawah ini untuk informasi lebih lanjut!

    Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Motor

    Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Mobil

    Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan Sertifikat Rumah

    Tidak hanya itu, Anda juga berkesempatan mendapatkan cashback hingga Rp 77 Juta Rupiah dengan promo  #PastiMerdeka! Ketentuan selengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut ini, ya!

    Temukan artikel bermanfaat lainnya di BFI Blog. Update setiap Senin-Jumat