• judi

    6 Dampak Negatif dari Gaya Hidup Boros dan Tips Menghindarinya!


    Merencanakan keuangan dengan baik dan benar memang selalu ada saja tantangan untuk dihadapinya. Entah itu datang dari godaan untuk berbelanja sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan atau dari kondisi tidak terduga yang menguras tabungan yang telah kita kumpulkan sejak lama. Pada kesempatan kali ini, tim BFI Finance membahas mengenai kebiasaan boros yang cukup mengganggu perencanaan keuangan kita. Melalui artikel dibawah ini, kami memberikan pemahaman mengenai apa saja dampak negatif dari gaya hidup boros dan bagaimana tips untuk menghindari kebiasaan boros tersebut. Dengan menjalankan gaya hidup hemat dan memenuhi kebutuhan sesuai porsinya, Anda memiliki peluang besar untuk menikmati masa depan yang nyaman dan bahagia.

    6 Dampak Negatif Dari Gaya Hidup Boros

    Berikut adalah enam dampak negatif dari gaya hidup boros yang perlu Anda waspadai:

    1. Tidak Bisa Menabung

    Dampak negatif dari gaya hidup boros yang pertama adalah tidak memiliki cukup uang untuk ditabung. Menabung adalah gaya hidup yang patut diajarkan sedari dini. Banyak sekali manfaat menabung antara lain yaitu menyiapkan masa depan yang lebih baik dan menjaga kestabilan kondisi keuangan.

    Dari penghasilan per bulan yang Anda terima, Anda dapat mengalokasikan paling tidak 10% untuk menabung. Anda dapat memisahkan rekening tersendiri untuk menabung agar tidak terpakai untuk kegiatan yang tidak direncanakan. Jika Anda melakukannya secara konsisten dan penuh komitmen, maka besar kemungkinan untuk Anda dapat mengumpulkan uang dengan cepat.

    2. Hutang dan Tagihan Menumpuk

    Berhutang bukanlah sesuatu hal yang dilarang. Namun, kita harus dapat menentukan secara bijak untuk apa kita berhutang. Apakah hutang itu untuk keperluan kredit produktif atau kredit konsumtif. Pastikan Anda memiliki dasar yang dapat diterima untuk meminjam sejumlah dana melalui pihak eksternal.

    Selain itu, hal yang dapat memicu tagihan dan hutang yang menumpuk yaitu berasal dari penggunaan kartu kredit. Kartu kredit memang memudahkan kita dalam mendapatkan aset lebih cepat, tetapi jika kita tidak bisa mengontrol penggunaannya secara bijak, berhati-hatilah jikalau suatu saat tagihan Anda menumpuk. Sehingga, mengerti bagaimana cara menggunakan kartu kredit yang benar adalah hal yang wajib kita pegang.

    Jika Anda tidak bisa mengelola hutang dan tagihan dengan baik, berbagai masalah baru dapat dipastikan akan muncul seperti stres berlebihan atau bahkan merepotkan orang lain.

    3. Tidak Memiliki Dana Darurat

    Dampak negatif dari gaya hidup boros lainnya yaitu tidak sempatnya seseorang mempersiapkan dana darurat. Dana darurat adalah dana yang disisihkan dari penghasilan yang Anda terima untuk mengantisipasi terjadinya keadaan atau kondisi yang tidak terduga seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), biaya kesehatan, kerusakan rumah, dan lain-lain. Dengan dana darurat, Anda dapat memenuhi kebutuhan finansial yang tidak terduga tanpa meminjam kepada kerabat atau keluarga Anda.

    4. Masa Tua Terancam

    Masa tua adalah masa dimana kita merasakan apa yang telah ditanam ketika muda. Berbagai persiapan dilakukan demi dapat merasakan masa tua yang nyaman dan bahagia, seperti menyiapkan dana pensiun, dana darurat, asuransi, dan lain sebagianya. Selalu miliki perencanaan keuangan yang kuat saat muda agar tidak terkena dampak negatif dari gaya hidup boros yang mengancam ini.

    5. Stres

    Dengan tagihan yang menumpuk, tidak memiliki dana darurat dapat menyebabkan perasaan stres lebih mudah muncul. Stres adalah dampak negatif dari gaya hidup boros yang mungkin paling mudah dan sering dirasakan. Tidak memiliki uang tetapi harus bertahan hidup seperti untuk memenuhi kebutuhan makan seharian, transportasi adalah contoh pemicu stres yang nyata. Jika Anda berhemat, besar kemungkinan untuk dapat terhindar dari stres berlebihan. Sebagai awalan menjalani hidup hemat mungkin akan terasa sulit, tetapi jika sudah menjalaninya dengan lama dan konsisten, maka akan terasa ringan dan terbiasa.

    6. Merasa Serba Kekurangan

    Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar, banyak orang yang memiliki gaji besar, namun hidupnya seperti tidak tenang. Hal tersebut merupakan salah satu dampak negatif dari gaya hidup boros. Padahal jika kita dapat mengelola gaji tersebut secara bijak, kita dapat terhindar dari kondisi serba kekurangan. Untuk mencegah dari kebiasaan boros tersebut, Anda dapat membuat pos-pos pengeluaran dan kebutuhan secara terperinci. Lakukan dan pantau secara konsisten agar kondisi keuangan yang sehat tetap terjaga.

    Dampak negatif dari gaya hidup boros

    Dampak negatif dari gaya hidup boros. Source: Freepik/gerain0812

    5 Tips Menghindari Gaya Hidup Boros

    Setelah Anda mengetahui berbagai dampak negatif dari gaya hidup boros, cobalah lakukan lima tips berikut ini untuk menghindari kebiasaan boros dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

    1. Membiasakan untuk Menabung

    Tips pertama untuk menghindari gaya hidup boros yaitu dengan membiasakan menabung setiap mendapatkan penghasilan yang Anda terima. Alokasikan paling tidak 10% dari penghasilan per bulan yang Anda terima. Dengan menabung secara secara konsisten dan penuh komitmen, maka niscaya Anda akan terhindar dari dampak negatif dari gaya hidup boros dan tabungan untuk masa depan Anda dapat terjamin.

    2. Bijak dalam Berbelanja

    Godaan untuk berbelanja sesuatu yang tidak dibutuhkan atau diperlukan memang kerap kali datang. Hal tersebut tentunya menjadi salah satu penghambat dalam perencanaan keuangan yang baik. Solusinya, Anda perlu membuat catatan mengenai barang dan kebutuhan apa saja yang perlu dibeli.

    3. Membiasakan Membawa Bekal Makanan dari Rumah

    Cara terhindar oleh dampak negatif dari gaya hidup boros lainnya yaitu dengan membiasakan membuata dan membawa bekal sendiri jika berpergian. Jika Anda bekerja sebagai karyawan kantoran, Anda dapat membawa bekal makan siang sendiri dibandingkan jika Anda mengeluarkan budget untuk makan siang diluar kantor. Jika Anda sudah berkeluarga dan memiliki anak yang telah bersekolah, siapkan bekal dari rumah agar anak tidak jajan sembarangan diluar sekolah. Tentunya, makanan yang disajikan dari rumah akan lebih higienis dan bergizi.

    4. Berbelanja Ketika Promo Diskon Tiba

    Tips selanjutnya untuk terhindar dari gaya hidup boros adalah dengan berbelanja ketika diskon berlangsung. Pilihan berbelanja dengan promo diskon kini kian mudah kita temukan.

    Biasanya supermarket mengadakan promo setiap harinya untuk item tertentu. Terkadang juga, diadakan promo khusus pemegang kartu debit atau kredit tertentu. Namun, jangan membuat promo diskon ini justru menjadi ajang untuk kalap dalam berbelanja ya. Tetap berbelanja sesuai dengan prioritas dan kebutuhan.

    5. Menjalankan Bisnis

    Cara terakhir untuk menghindari dampak negatif dari gaya hidup boros adalah dengan mencoba untuk menjalankan bisnis. Daripada uang habis untuk berbelanja sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, alokasikanlah uang Anda untuk modal dalam berbisnis. Memang, dalam bisnis tidak selalu menghasilkan untung. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba dan menjadikannya sebagai pengalaman. Anda juga dapat berpartner dengan kerabat dalam menjalankan bisnis. Selalu lakukan riset yang mendalam ya Sobat BFI jika Anda ingin menjalankan suatu bisnis.

     

    Nah, seperti itulah keenam dampak negatif dari gaya hidup boros beserta tips untuk menghindarinya. Untuk memulai gaya hidup yang sehat secara finansial memang membutuhkan usaha dan terasa berat di awal, tetapi percayakan saja pada waktu dan usaha yang telah Anda berikan. Niscaya,  jika dilakukan secara konsisten dan penuh komitmen, Anda akan terhindar dari jebakan gaya hidup boros tersebut.

    Jika Anda ingin mengalokasikan uang yang Anda miliki sebagai modal dalam menjalankan bisnis dan membutuhkan modal tambahan, Anda dapat mengajukan modal tambahan usaha tersebut kepada BFI Finance! BFI Finance telah membantu dalam memenuhi kebutuhan finansial untuk ribuan pelanggan dari seluruh Indonesia. BFI Finance berdiri sejak tahun 1982 dan telah terdaftar dan diawasi oleh OJK, jadi jangan ragu untuk mengajukan pembiayaan modal usaha Anda melalui kami! Dengan berkembangnya dunia digital, kini mengajukan pembiayaan modal usaha pun semakin mudah, cukup klik tautan dibawah ini dan tim kami akan dengan cepat memroses pengajuan pinjaman Anda.

     

    Klik untuk pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Mobil

    Klik untuk pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Motor

    Klik untuk pengajuan Pinjaman Jaminan Sertifikat Rumah

     

    Selalu Ada Jalan, Bersama BFI Finance.

  • judi

    Toxic Positivity, Penyangkalan Emosi Negatif yang Berbahaya


    Berpikir positif merupakan sesuatu yang baik. Hanya saja, jika dilakukan secara berlebihan dapat menjadi boomerang yang justru mengancam kesehatan mental kita.

    Istilah ini lazim disebut dengan toxic positivity. Toxic positivity adalah suatu kondisi di mana seseorang menolak untuk merasakan emosi negatif yang menghampirinya dan terus menerus menekan emosi tersebut dengan cara tetap berpikir positif.

    Tidak hanya itu, toxic positivity juga bisa diartikan sebagai kata penyemangat atau motivasi yang memiliki efek beracun dan merusak karena kata-kata yang terlontar justru menyakiti lawan bicara.

    Untuk memudahkan Anda dalam memahami toxic positivity, efek negatif, serta tips menghindarinya, mari kita simak penjelasan berikut ini.

    Apa Itu Toxic Positivity?

    Istilah toxic positivity belakangan ini cukup sering digunakan terutama saat tengah membahas tentang kesehatan mental.

    Toxic positivity adalah suatu tindakan di mana seseorang menyangkal emosi negatif yang ia rasakan. Contohnya rasa marah, kesal, sedih, kecewa, dan lain sebagainya. Emosi ini sengaja ditekan karena dianggap sebagai hal buruk atau emosi yang perlu disembunyikan.

    Sayangnya, jika emosi ini terus menerus ditekan dalam kurun waktu yang lama, emosi tersebut akan sangat berbahaya dan menyebabkan hal yang cukup fatal.

    Hal ini dikarenakan penyangkalan terhadap emosi negatif yang dirasakan seseorang akan mengakibatkan beragam masalah kesehatan. Diantaranya yaitu stres, gangguan tidur, kecemasan, perasaan sedih yang berkepanjangan, depresi, penggunaan obat terlarang, bahkan PTSD (post-traumatic stress disorder).

    Selain terhadap diri sendiri, toxic positivity juga bisa datang dari orang lain. Contoh sederhananya yaitu pada saat kita bercerita tentang hal sulit yang kita lalui. Alih-alih mendapat kata motivasi yang membantu menenangkan pikiran, lawan bicara kita justru melontarkan kalimat yang menyakitkan.

    Beberapa ekspresi yang kerap digunakan dalam toxic positivity antara lain, “Jangan menyerah, masih banyak orang lain yang lebih susah”, “masalahmu tidak ada apa-apanya ketimbang si A”, “Anda masih lebih mending, dulu saya jauh lebih sulit”.

    Meskipun terkesannya sepele, kalimat tersebut memiliki dampak yang cukup berpengaruh terhadap cara pandang kita pada diri sendiri, perasaan rendah diri, merasa emosi yang muncul tidak valid, dan lain sebagainya. Hal ini tentunya berpotensi meracuni kita yang berujung pada gangguan kesehatan mental.

    Bagaimana Cara Mengenali Toxic Positivity?

    Toxic positivity dapat dikenali dari cara bicara seseorang, tepatnya dari kata-kata yang dilontarkan. Mungkin orang tersebut memang berniat baik untuk memberikan motivasi terhadap lawan bicaranya namun tanpa ia sadari yang keluar dari ucapannya justru kata-kata yang merendahkan dan membuat orang sakit hati.

    Adapun ciri lainnya dari toxic positivity bisa kita lihat seperti di bawah ini.

    1. Tidak Jujur Dengan Perasaan Diri Sendiri / Bersikap Denial

    Toxic positivity adalah sebuah sikap di mana kita merespon apa yang kita rasakan secara berlebihan. Hal ini menimbulkan keengganan untuk mengakui apa yang sebenarnya kita rasakan karena beranggapan jika emosi negatif tidak sebaiknya dirasakan.

    Contohnya berpura-pura bahagia padahal sedang mengalami rasa sedih yang teramat.

    2. Cenderung Menghindari Masalah

    Ciri yang kedua jika seseorang tengah mengalami toxic positivity yaitu ada kecenderungan untuk menghindari masalah. Hal ini dikarenakan masalah yang muncul dalam hidupnya cenderung membawa emosi negatif seperti perasaan kecewa, marah, kesal, sedih, dan lain sebagainya.

    Alhasil, demi menghindari perasaan negatif yang timbul dari adanya masalah tersebut, oarang tersebut akan berusaha untuk menghindari masalah yang ada dan berpikir bahwa masalah tersebut tidak benar-benar terjadi.

    3. Memberikan Motivasi yang Justru Menyakiti Orang Lain

    Ciri berikutnya dari orang yang mengalamitoxic positivity yaitu cenderung menghakimi orang lain lewat kata-kata yang keluar dari mulutnya.

    Pernahkah Anda bercerita kepada seseorang atau curhat namun bukannya menjadi tenang tapi justru semakin gelisah dan sakit hati karena dihakimi atau dibanding-bandingkan? Hal tersebut merupakan ciri-ciri dari toxic positivity! 

    4. Suka Membandingkan Diri Sendiri Dengan Orang Lain

    Hati-hati jika suka membandingkan diri dengan orang lain. Kebiasaan ini adalah satu tanda seseorang mengalami toxic positivity!

    Misalnya, saat hendak memotivasi orang lain, mereka yang memiliki toxic positivity cenderung membandingkan lawan bicaranya dengan orang lain yang mereka anggap mengalami kejadian yang lebih parah seperti “Lihat, dia saja yang tidak sempurna bisa melakukannya,  masa Anda tidak?”, “Sebetulnya Anda itu mampu tapi sayang sekali mudah menyerah.”

    5. Kesulitan Dalam Mengontrol Emosi

    Ciri yang kelima yaitu kesulitan dalam mengontrol emosi. Orang dengan toxic positivity cenderung berpikiran segala sesuatunya harus dihadapi dengan positif dan tanpa sadar merasa kesulitan untuk memahami emosi yang terjadi pada dirinya sehingga lebih mudah merasa cemas, was-was, dan tidak tenang.

    Toxic Positivity

    Image Source: Pexels/Liza Summer

    Efek Negatif Adanya Toxic Positivity

    Jika terus menerus dibiarkan, toxic positivity memiliki efek yang sangat serius. Efek tersebut antara lain sebagai berikut.

    1. Mudah terkena stres

    2. Merasa paling benar

    3. Mengalami kesulitan dalam bersosialisasi

    4. gangguan kesehatan mental

    5. Mudah merasa gelisah dan penakut (anxiety)

    Tips Menghindari Toxic Positivity

    Untuk menghindari sikap toxic ini, Anda bisa mengikuti 5 tips bermanfaat berikut ini.

    1. Jujur Terhadap Perasaan Diri Sendiri

    Jujur memiliki arti merasakan dengan sepenuh hati emosi yang tengah kita rasakan. Apapun itu emosinya; sedih, senang, marah, kecewa, semua emosi tersebut adalah sesuatu yang normal dirasakan oleh manusia.

    Kita bisa meluapkan apa yang tengah dirasakan dengan berbicara atau curhat pada orang terdekat yang bisa kita percaya. Jika hal itu kurang membuat Anda nyaman, Anda bisa menuliskannya di buku atau catatan pribadi.

    Perbanyakn juga emotional support dari mereka yang memang mengerti kondisi kita dengan pandangan yang objektif, hindari berinteraksi dengan orang-orang yang sekiranya memberikan toxic positivity.

    2. Berusaha Untuk Memahami

    Berusahalah memahami diri sendiri dan orang di sekitar kita, cobalah untuk mendengarkan. Jika seandainya kita tidak mampu memberikan solusi, cobalah untuk menghindari kata-kata yang kurang mengenakan.

    Sebab, satu kata yang kurang sesuai dapat memberikan efek yang menyakitkan bagi pendengar. Jangan pula merasa perlu mengadu nasib saat seseorang bercerita pada kita. Pahami bahwa kita tidak bisa mengontrol orang lain. Lebih baik kita menjadi pendengar yang baik, bertanya apa yang tengah dirasakan, daripada kita berusaha memberikan solusi.

    3. Hindari Membandingkan-Bandingkan Diri Dengan Orang Lain

    Berhentilah membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sebab, apa yang dihadapi oleh diri kita dan orang lain adalah sesuatu yang berbeda, kita tidak akan pernah bisa merasakan sepenuhnya apa yang sedang dihadapi orang lain.

    4. Kurangi Konsumsi Sosial Media

    Terlalu sering bermain sosial media terbukti dapat menyebabkan stres. Hal ini dikarenakan postingan yang ada terkait kebahagiaan dan sesuatu yang nampak baik-baik saja dapat menimbulkan perasaan insecure dan mulai membanding-bandingkan kehidupan orang lain dengan diri sendiri.

    Tidak hanya itu, terlalu sering bermain sosial media juga dapat menganggu kesehatan tubuh kita salah satunya yaitu mata akibat terlalu sering menatap layar.

    Hindari orang-orang yang sering membuat postingan negatif atau justru memprovokasi (triggering) emosi Anda. Selalu tanamkan dalam diri jika apa yang kita lihat di dunia maya tidak sepenuhnya benar karena setiap orang selalu ingin memiliki image atau citra diri yang baik.

    Di samping itu, ketimbang menghabiskan banyak waktu untuk bermain sosial media, Anda bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan aktivitas produktif nan positif. Seperti halnya mengembangkan hobi atau belajar hal baru.

    5. Berdamai Dengan Diri Sendiri

    Tips yang terakhir sekaligus menjadi salah satu tips yang terpenting yaitu berdamai dengan diri sendiri.  Belajar memahami, menghargai, serta mencintai diri sendiri sebaik mungkin, salah satu caranya yaitu dengan mendengarkan isi hati.

    Jika kita sulit memahami dan berdamai dengan diri sendiri, bagaimana mungkin kita bisa menolong dan memahami orang lain?

    Sobat BFI, itulah penjelasan artikel kali ini mengenai toxic positivity. Tidak apa-apa jika kita merasa tidak baik-baik saja, apa yang Anda rasakan adalah emosi yang valid. Tidak perlu menyangkalnya ataupun pura-pura bahagia.

    Jika Anda membutuhkan pinjaman dana cepat untuk kesehatan maupun kebutuhan mendesak lainnya, Anda bisa mengajukannya di BFI Finance!

    Klik laman web di bawah ini untuk informasi lebih lanjut!

    Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Motor

    Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Mobil

    Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan Sertifikat Rumah

    Tidak hanya itu, Anda juga berkesempatan mendapatkan cashback hingga Rp 77 Juta Rupiah dengan promo  #PastiMerdeka! Ketentuan selengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut ini, ya!

    Temukan artikel bermanfaat lainnya di BFI Blog. Update setiap Senin-Jumat