• judi

    Solusi Bisnis Menghadapi Tantangan Di Masa Pandemi


    Merintis bisnis sendiri tentunya merupakan impian semua orang. Namun, tentunya kita semua paham bahwa menjalani bisnis tidaklah mudah. Terutama di tengah pandemi ini, dimana tantangan bisnis semakin meningkat. 

    Tantangan Bisnis di Masa Pandemi

    Harus diakui, menjalani bisnis di masa pandemi memang tidak mudah. Mobilitas manusia yang semakin terbatas turut berpengaruh pada jumlah kunjungan ke toko-toko offline. Hal ini tentunya berpengaruh pada jumlah pemasukan dan keuntungan yang menurun. 

    Selain terbatasnya mobilitas orang-orang, banyak pula masyarakat yang takut untuk berbelanja. Hal ini disebabkan karena kurangnya rasa percaya mereka apakah toko yang mereka tuju telah menetapkan protokol kesehatan yang baik. Akhirnya, mereka lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan dan mengurangi berbelanja dari luar. 

    Tantangan lainnya adalah sebagian pengusaha harus menyesuaikan usahanya agar beralih ke dunia digital. Penyesuaian yang dilakukan cukup banyak, berikut juga biayanya. Baik itu di bidang teknologinya, maupun pada sistem manajemen usahanya. 

    Lalu, apa solusinya agar bisnis mampu menghadapi tantangan di masa pandemi? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut!

     

    solusi bisnis

    Transparansi Usaha

    Apabila kondisi perusahaan sedang sulit, jangan tutupi hal tersebut. Sebaiknya, komunikasikan dengan jelas pada karyawan dan pelanggan. Apabila dilakukan dengan benar, hal ini justru bisa menarik simpati baik dari karyawan maupun pelanggan. Dengan komunikasi yang baik dan benar, mereka akan memahami kondisi usaha dengan lebih baik dan bisa menekan dampak buruk yang mungkin terjadi. 

    Sesuaikan Strategi Usaha Dengan Tren

    Seperti yang telah disebutkan, salah satu tantangan bisnis di masa pandemi adalah proses peralihan ke dunia digital. Salah satu tren yang cukup besar sekarang adalah belanja online. Anda bisa mengubah strategi usaha dari offline menjadi pelayanan online. Gali lebih jauh mengenai tren baru yang akan berkembang. Mudahkanlah pelanggan untuk memesan secara online dengan menyediakan opsi delivery service. Selain itu, yakinkan pelanggan bahwa usaha Anda sudah menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Anda bisa berbagi cerita mengenai upaya protokol kesehatan yang dilakukan bisnis Anda untuk menjamin rasa aman kepada pelanggan dan karyawan.

    Mengajukan Pinjaman Modal Usaha Untuk Bisnis 

    Modal usaha juga merupakan salah satu tantangan terbesar di tengah pandemi ini. Mengalihkan usaha dari offline ke online juga membutuhkan biaya ekstra. Seperti gadget, membuat website, posting iklan berbayar, dan lain sebagainya. Serta biaya-biaya operasional lainnya yang mengharuskan Anda menyediakan dana ekstra. 

    Kabar baiknya, Anda tidak perlu khawatir dimana bisa mendapatkan modal tambahan. Anda bisa mengajukan pinjaman modal usaha untuk mengembangkan bisnis Anda di tengah pandemi. Salah satunya adalah melalui BFI Finance. Dapatkan pembiayaan hingga 3M dengan jaminan sertifikat rumah untuk berbagai kebutuhan, termasuk untuk pengembangan dan ekspansi bisnis Anda. 

    Itulah solusi bisnis dalam menghadapi tantangan di masa pandemi. Yuk, kembangkan bisnis Anda dengan BFI Finance!

     

  • judi

    Jangan Takut! Cara Menghadapi Debt Collector dengan Baik dan Benar


    Bagi banyak orang, kata “debt collector” mungkin terlihat menyeramkan dan memiliki konotasi beragam lainnya. Padahal, tugas seorang debt collector adalah hanya untuk menagih hutang debitur yang sudah terlalu lama menunggak. Penyebab banyak kejadian yang tidak diinginkan yang dialami oleh debitur dengan debt collector adalah kesalahpahaman antara kedua belah pihak dan metode penyelesaian masalah yang kurang tepat. Jika, kedua belah pihak sama-sama kooperatif, maka dipastikan tidak ada kejadian penagihan hutang yang melibatkan kekerasan baik secara verbal bahkan fisik. Karena tentunya, hal tersebut sangat merugikan banyak pihak dan dapat mengganggu keharmonisan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

    Nah, untuk lebih mendalami apa itu debt collector, serta bagaimana cara menghadapi debt collector dengan tepat, artikel dibawah ini sangat cocok untuk Anda jadian pedoman! Tim BFI Finance memberikan pemahaman secara komprehensif mengenai tugas, dasar hukum, cara menghadapi debt collector, serta bagaimana cara mengatasi debt collector yang bermasalah. Simak secara menyeluruh ya!

    Apa Itu Debt Collector?

    Debt collector adalah pihak ketiga yang ditunjuk oleh Lembaga Keuangan atau kreditur dengan tujuan untuk menagih hutang debitur yang menunggak dengan kriteria tertentu. Tidak semua jenis hutang akan ditagih oleh debt collector, tetapi biasanya jenis hutang yang ditagih adalah hutang yang sudah terlalu lama dari jatuh temponya tidak terbayar oleh debitur. Setiap Lembaga keuangan memiliki peraturan yang berbeda mengenai kapan penagihan hutang dikelola oleh debt collector.

    Penagihan hutang sejatinya harus dilakukan dengan etika dan standar perusahaan yang berlaku. Pemilik hutang harus mampu dan memiliki kesadaran untuk membayarkan hutang dengan tepat waktu sesuai dengan perjanjian. Sementara, kreditur dan debt collector sejatinya hanya melaksanakan tugas untuk dapat menagih hutang agar kinerja perusahaan tetap terjaga, terutama pada performa Non-Perfoming Loan (NPL). Namun, terkadang ada saja kejadian penagihan yang tidak mengindahkan tata cara yang semestinya, seperti melibahtkan kekerasan secara fisik maupun verbal. Hal ini yang membuat citra debt collector menjadi buruk.

    Debt collector yang baik adalah Ia yang menagih hutang sesuai dengan kode etik perusahaan dan regulasi di Indonesia. Terdapat beberapa kode etik dan persyaratan yang harus dipatuhi oleh debt collector. Selain itu, yang tidak kalah penting dan utama adalah kerjasama dari sisi debitur untuk dapat kooperatif dalam membayar hutangnya dengan tepat waktu.

    Dasar Hukum Debt Collector

    Hingga saat ini belum ada perundang-undangan di Indonesia yang mengatur secara khusus mengenai tata cara penagihan yang dilakukan oleh debt collector. Namun, kita dapat mengacu pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) dan Surat Edaran Bank Indonesia yang menjelaskan etika dan kewajiban yang harus dipatuhi oleh Lembaga Keuangan atau jasa debt collector dalam melakukan penagihan terhadap debitur yang wanprestasi. Hal tersebut diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/17/DASP Tanggal 7 Juni 2012 tentang Perubahan Pertama dan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 16/25/DKSP Tahun 2014 tentang Perubahan Kedua atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/10/DASP tanggal 13 April 2009 perihal Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu.

    Seorang debt collector tidak boleh melakukan paksaan untuk menyita barang-barang milik debitur yang wanprestasi. Penyitaan barang debitur yang wanprestasi hanya boleh dilakukan atas putusan pengadilan. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berbunyi: “Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.”

    Jika dalam melakukan penagihannya, debt collector tetap melakukan dengan cara kekerasan atau ancaman kekerasan, maka Ia dapat dijerat oleh Pasal 365 ayat (1) KUHP yang berbunyi: “Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, terhadap orang dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya, atau untuk tetap menguasai barang yang dicuri.”

    Dasar hukum tersebut berlaku tidak hanya untuk Lembaga Keuangan seperti Bank saja, tetapi berlaku bagi Perusahaan Pembiayaan maupun Leasing.

    Cara menghadapi debt collector dengan baik dan benar

    Cara Menghadapi Debt Collector dengan Baik dan Benar. Image Source: Freepik/frimufilms

    Cara Menghadapi Debt Collector dengan Baik dan Benar

    Jangan panik jika Anda kedatangan debt collector. Selalu berprinsip jika debt collector mendatangi Anda untuk menyelesaikan masalah secara baik dan sesuai prosedur. Berikut 4 tips untuk Anda dalam menghadapi debt collector:

    1. Terima Kedatangannya Dengan Baik

    Langkah pertama dalam menghadapi debt collector adalah dengan menerima kedatangannya dengan baik. Tidak perlu menghindar, karena jika Anda menghindar akan memperburuk kondisi. Maksud dan tujuan debt collector adalah menagih hutang dengan baik, maka perlakukanlah mereka juga dengan hati.

    2. Tanyakan Identitas, Surat Tugas, dan Sertifikasi Debt Collector

    Jika sudah menerima kedatangannya dengan baik, lalu tanyakan identitas, surat tugas, dan sertifikasi resmi debt collector tersebut. Debt collector yang resmi bertugas memiliki surat tugas resmi dari Lembaga Keuangan atau Agency tempat Ia bekerja. Selain itu, seorang debt collector juga wajib memiliki Sertifikasi Profesi Penagihan Pembiayaan (SP3). Tanyakan juga kepada mereka kepemilikan sertifikasi tersebut. Jika mereka tidak mampu menunjukkan surat tugas resmi dan sertifikasinya, maka abaikan saja kedatangannya.

    3. Jelaskan dengan Baik Kondisi Keuangan Anda, Termasuk Kendala yang Dihadapi

    Jelaskan dengan jujur, sopan, dan tenang mengenai kondisi keuangaan Anda saat itu, termasuk kendala yang dihadapi sehingga mengalami keterlambatan bayar. Bersikap kooperatiflah dengan debt collector jika terdapat pertanyaan yang berhubungan dengan kesulitan pembayaran angsuran.

    4. Lakukan Pembayaran yang Menunggak

    Jika sudah menemukan titik terang dan Anda memiliki kemampuan untuk membayar angsuran, lakukanlah pembayaran tunggakan angsuran dan denda jika ada secepat mungkin. Ikuti pembayaran angsuran sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Jika Anda tetap tidak mampu untuk membayar angsuran, tetap ikuti prosedur yang harus diikuti. Upayakan untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan dan tanpa kekerasan, karena sesungguhnya kedua belah pihak sama-sama membutuhkan solusi yang tepat.

    Etika Dalam Penagihan oleh Debt Collector

    Beberapa point dibawah ini dapat menjadi acuan untuk melihat bagaimana tugas debt collector dalam menagih hutang debitur secara benar dan sesuai prosedur.

    • Memiliki Sertifikasi Profesi Penagihan Pembiayaan (SP3) yang menjadi syarat resmi dalam kegiatan penagihan dan diatur dalam POJK Nomor 35/POJK.05/2018.
    • Patuh terhadap peraturan-peraturan Perusahaan yang menjadi tempat bekerja Debt Collector.
    • Dalam melaksanakan tugasnya, debt collector selalu berpakaian rapi dan memakai sepatu. Tidak menggunakan jeans, kaos oblonga ataupun jaket.
    • Tidak mengucapkan kata-kata kasar atau tidak senonoh kepada debitur dan keluarga debitur.
    • Menghindari kontak fisik dengan debitur dan keluarga debitur.
    • Tidak menerima segala bentuk uang atau hadiah dari debitur atas kegiatan penagihannya.
    • Tidak melakukan ancaman kepada debitur dan keluarga debitur.
    • Selalu membawa fotokopi Surat Kuasa yang di legalisir oleh kantor external agency, Surat Tugas Resmi dan Identitas Diri profesional collector Agency yang dilengkapi dengan foto diri profesional collector agency.
    • Tidak menggunakan Kuitansi/TandaTerima Resmi yang palsu.
    • Mengutamakan sikap persuasif, professional, dan melakukan negosiasi dengan baik tanpa adanya intimidasi terhadap debitur.
    • Tidak memberikan data debitur baik kepada profesional agency lain ataupun perusahaan external agency lain.
    • Tidak memberikan informasi yang salah kepada debitur mengenai Total Tunggakan dan denda keterlambatan pembayaran debitur.

    Pengaduan Terhadap Debt Collector Bermasalah

    Jika Anda tetap menemui debt collector yang dalam tugasnya tidak memenuhi prosedur yang telah ditetapkan dari Perusahaan tempat mereka bekerja maupun regulasi yang ada di Indonesia, Anda dapat melaporkannya melalui lembaga terkait yang dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut. Terdapat lima Lembaga yang dapat menjadi tempat pengaduan jika menghadapi Debt Collector yang bermasalah, yaitu:

    1. Bank Indonesia

    Pengaduan atas tindakan debt collector bermasalah yang pertama dapat dilaporkan melalui Bank Indonesia:

    Contact Center BICARA

    1. Gedung Tipikal, Lantai 1 DUPK BI
    2. Gedung B Lantai 1, Komplek Perkantoran BI, Jl. M.H. Thamrin No. 2, Gambir, Jakarta Pusat.

    2. Otoritas Jasa Keuangan

    Selain melalui Bank Indonesia, Anda juga dapat melaporkan tindakan debt collector yang bermasalah pada Otoritas Jasa Keuangan.

    • Surat ditujukan kepada Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen
    • Alamat Pengiriman: Menara Radius Prawiro, Lantai 2 Komplek Perkantoran BI, Jl MH. Thamrin No. 2, Jakarta Pusat
    • Telepon: 157 (Dapat dihubungi pada Hari Kerja Senin-Jumat pukul 08.00 – 17.00 WIB)
    • Email: [email protected]
    • Form Pengaduan Online: Form Pengaduan Online OJK

    3. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)

    Lembaga ketiga yang dapat menjadi tempat pengaduan atas debt collector nakal adalah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

    • Call Center: 021-7981858 atau 7971378
    • Alamat: Jalan Pancoran Barat VII/1, Durentiga, Jakarta Selatan 12760
    • Jam operasional pelayanan mulai dari Senin – Jumat, pukul 09.00 – 15.00 WIB.
    • Pengaduan Online: Pengaduan Online YLKI

    4. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)

    Anda juga dapat mengadu kepada Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang tersebar di seluruh Indonesia atas tindakan debt collector yang bermasalah. Berikut adalah informasi nomor telepon yang dapat dihubungi dan alamat Kantor Pusat YLKI:

    • Telepon: 021 – 3929840
    • Faksimile: 021 – 31930140
    • Email: [email protected]
    • Alamat: Jl. Diponegoro No. 74, Menteng, Jakarta Pusat 10320.

    5. Kantor Polisi

    Cara terakhir untuk mengadu permasalahan debt collector yang nakal adalah dengan melaporkan ke Kantor Polisi terdekat. Ikuti sesuai prosedur pelaporan yang ada pada Kantor Polisi daerah Anda berada.

     

    Itulah pemaparan mengenai apa itu debt collector secara komprehensif, termasuk didalamnya bagaimana prosedur kerjanya, etika yang harus dimiliki, serta bagaimana cara melapor jika terdapat debt collector yang bermasalah. Jika Anda ingin terhindar dari kejaran debt collector, maka selalu bayar angsuran dengan tepat waktu ya, Sobat BFI!

    Untuk mendapatkan pinjaman yang terpercaya, Anda selalu dapat mengajukannya melalui BFI Finance! Cukup dengan jaminan BPKB Kendaraan dan Sertifikat Rumah Anda berkesempatan untuk mendapatkan pinjaman dengan suku bunga yang rendah dan pilihan tenor yang beragam!

     

    Klik untuk Pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Mobil

    Klik untuk Pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Motor

    Klik untuk Pengajuan Pinjaman Jaminan Sertifikat Rumah

     

    Selalu Ada Jalan Bersama BFI Finance!

     

  • judi

    Resesi Adalah: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Cara Menghadapi


    Belakangan ini jagat maya dihebohkan dengan kata ‘resesi’. Saking populernya kata tersebut, banyak orang merasa was-was untuk menyambut tahun 2023. Tahun depan juga digadang-gadangkan sebagai tahun yang gelap.

    Resesi adalah istilah ekonomi yang menggambarkan perekonomian suatu negara yang diakibatkan oleh berbagai faktor.

    Apa itu resesi sebenarnya dan mengapa banyak orang sangat khawatir bilamana resesi benar-benar terjadi? Mari kita kupas satu persatu mengenai resesi di uraian berikut.

    Pengertian Resesi 

    Resesi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan dimana perputaran ekonomi suatu negara berubah menjadi lambat atau buruk. Perputaran ekonomi yang melambat ini bisa berlangsung cukup lama bahkan tahunan akibat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) suatu negara menurun selama dua kartal dan berlangsung secara terus menerus.

    PDB sendiri dapat diartikan sebagai aktivitas ekonomi suatu negara selama satu periode. Jadi, apabila suatu negara mengalami aktivitas ekonomi yang turun secara terus menerus selama dua periode, maka negara tersebut dapat dikatakan resesi.

    Sedangkan National Bureau of Economic Research (NBER) yang terletak di Amerika Serikat, mengartikan resesi sebagai kondisi dimana negara mengalami penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan dalam kurun waktu beberapa bulan dilihat dari PDB riil, penghasilan, tingkat pengangguran, produksi industri, penjualan grosir-ritel.

    Penyebab Terjadinya Resesi Ekonomi

    Ada beragam faktor yang memicu terjadinya resesi pada suatu negara. Faktor-faktor penyebab terjadinya resesi adalah sebagai berikut.

    1. Inflasi

    Inflasi adalah kondisi naiknya harga secara terus menerus, baik itu harga barang maupun jasa. Adanya kenaikan harga ini berimbas pada melemahnya daya beli masyarakat yang nantinya diikuti juga dengan penurunan produksi barang dan jasa.

    Jika dibiarkan dalam waktu lama, hal ini akan mengakibatkan tingginya angka pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masal, kemiskinan, dan terjadi resesi.

    2. Deflasi Berlebihan

    Seperti halnya inflasi, deflasi juga bisa membawa pengaruh yang buruk dan memicu terjadinya resesi. Deflasi adalah sebuah kondisi dimana harga barang dan jasa turun dari waktu ke waktu yang akhirnya berimbas pada upah yang dibayarkan mengalami penurunan.

    Deflasi juga ditandai dengan adanya penundaan pembelian barang atau jasa sampai harga terendah. Hal ini tentunya sangat beresiko bagi pemilik usaha. Sebab, meskipun daya beli masyarakat kemungkinan akan naik, nyatanya pemilik usaha harus menekan biaya produksi yang berujung pada ruginya suatu bisnis. 

    Jika masyarakat atau unit bisnis berhenti untuk melakukan aktivitas ekonomi seperti membelanjakan uangnya, bukan tidak mungkin kondisi ekonomi yang ada akan rusak.

    3. Gelembung Aset Pecah

    Penyebab berikutnya resesi adalah pecahnya gelembung aset. Hal ini bisa terjadi saat investor mengambil langkah secara gegabah.

    Misalnya, terjadi pembelian saham dan properti secara masif dengan anggapan harganya akan naik dengan cepat. Lalu, saat keadaan ekonomi tengah goyah, mereka akan beramai-ramai menjualnya yang mengakibatkan terjadinya panic selling dan berujung pada resesi akibat rusaknya pasar.

    4. Guncangan Ekonomi yang Mendadak

    Pemicu lain resesi adalah guncangan ekonomi secara mendadak. Hal ini ditandai dengan menurunnya daya beli yang disebabkan kesulitan finansial serta masalah serius lainnya seperti tumpukkan hutang.

    Hutang yang menumpuk akan mempengaruhi membengkaknya bunga yang perlu dibayarkan dan berujung pada ketidakmampuan untuk melunasinya atau gagal bayar. 

    5. Perkembangan Teknologi

    Resesi adalah kemerosotan ekonomi yang tidak hanya disebabkan dari aktivitas ekonomi itu sendiri. Perkembangan teknologi turut menjadi faktor adanya resesi. 

    Hal ini bisa terjadi karena adanya penurunan lapangan pekerjaan yang banyak digantikan oleh teknologi terkemuka seperti Artificial Intelligence (AI) dan robot. Alhasil, lapangan pekerjaan akan menurun drastis dan membuat angka pengangguran meningkat.

    6. Ketidakseimbangan Antara Produksi dan Konsumsi

    Ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi menjadi pemicu berikutnya. Barang dan jasa yang diproduksi secara berlebih dengan tingkat konsumsi atau daya beli yang menurun bisa membawa malapetaka bagi produsen.

    Hal ini mendorong terjadinya impor secara besar-besaran, membengkaknya pengeluaran perusahaan, dan menipisnya laba perusahaan dalam negeri.

    7. Pertumbuhan Ekonomi Mengalami Penurunan Selama Dua Kuartal Berturut-Turut

    Salah satu indikasi resesi adalah adanya penurunan pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut yang dinilai dari melemahnya Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara.

    8. Nilai Impor Lebih Besar dari Ekspor

    Indikasi lain terjadinya resesi adalah nilai impor suatu negara lebih besar ketimbang ekspor. Hal Ini bisa memberikan efek terhadap defisitnya anggaran negara dan terjadinya penurunan pendapatan nasional.

    9. Tingginya Tingkat Pengangguran

    Tingginya angka pengangguran suatu negara bisa mengindikasikan negara tersebut mengalami resesi. Sebab, tenaga kerja memiliki peran penting dalam perputaran perekonomian suatu negara.

    Apabila angka pengangguran meningkat secara terus menerus, hal ini akan mengakibatkan terjadinya tingkat kriminalitas yang ikut naik. 

    Secara garis besar, resesi adalah situasi yang muncul karena berbagai faktor. Misalnya krisis keuangan, salah mengambil keputusan perekonomian, adanya disrupsi rantai pasokan, disrupsi perdagangan eksternal, pecahnya gelembung ekonomi, sampai dengan faktor yang ada di luar kuasa manusia seperti bencana alam ataupun pandemi.

     

    Baca Juga: Mengenal Istilah Ekonomi Middle Income Trap dan Strategi Mengatasinya

     

    Dampak Adanya Resesi Ekonomi

    Dampak resesi adalah akibat yang muncul dan mempengaruhi beberapa pihak antara membawa dampak pada pemerintahan, perusahaan, dan para pekerja.

    1. Dampak Resesi Ekonomi Terhadap Pemerintahan

    Resesi ekonomi membawa dampak yang cukup berat bagi pemerintah. Saat kondisi ini terjadi tentunya angka pengangguran akan meningkat dan pemerintah dituntut untuk membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Alhasil, pinjaman pada bank asing kian meroket.

    Adanya resesi juga membuat pendapatan pajak dan non pajak menjadi rendah. Ini dikarenakan kondisi finansial masyarakat yang memburuk dan harga properti yang ikut turun. Sehingga, jumlah PPN (Pajak Pertambahan Nilai) yang masuk ke kas negara menjadi lebih sedikit. 

    Di sisi lain, pemerintah juga terus didorong untuk melakukan pembangunan di sektor pemerintahan. Salah satunya yaitu menjamin kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya semua tuntutan yang ada serta menurunnya pemasukan pendapatan pajak, membuat negara mengalami defisit anggaran dan utang pemerintah menjadi lebih tinggi.

    2. Dampak Resesi Ekonomi Terhadap Perusahaan

    Resesi adalah kondisi perekonomian yang mampu membuat perusahaan jatuh bangkrut. Hal Ini diakibatkan menurunnya daya beli masyarakat yang berimbas pada penurunan pendapatan perusahaan dan mengancam arus kas.

    Pada akhirnya, perusahaan akan memangkas biaya operasional dan menutup area bisnis yang kurang menguntungkan, sampai dengan mengambil keputusan berat untuk melakukan efisiensi pegawai (PHK).

    3. Dampak Resesi Ekonomi Terhadap Para Pekerja

    Adanya dampak resesi adalah dampak yang tidak hanya dirasakan oleh pemerintah dan perusahaan, akan tetapi para pekerja turut terkena imbasnya. 

    Area bisnis yang ditutup serta efisiensi pegawai yang dilakukan untuk menekan biaya operasional membuat banyak orang kehilangan pekerjaan akibat adanya PHK. Pekerja yang tidak terkena PHK pun ikut dirugikan dengan pemotongan upah yang didapat.

    Hal ini menjadi pendorong adanya ketidakstabilan sosial, kesenjangan yang semakin menjamur dimana-mana, dan tingkat kriminalitas yang tinggi.

    Resesi Adalah

    Image Source: Freepik

    Cara Pencegahan Resesi

    Resesi adalah keadaan yang cukup mengancam banyak sektor. Namun, bukan berarti resesi ekonomi tidak dapat dicegah. Berikut ini cara pencegahan resesi.

    1. Belanja Besar-Besaran Oleh Pemerintah

    Cara pencegahan resesi adalah dengan memperkuat daya beli. Strategi yang bisa diterapkan yaitu dengan belanja besar-besaran agar perputaran ekonomi tidak macet dan dunia usaha tergerak untuk bisa terus berinvestasi.

    2. Bantuan UMKM

    Resesi adalah krisis yang bisa terjadi pada banyak sektor salah satunya UMKM. dengan menyalurkan bantuan terhadap UMKM berupa UMKM produktif dan kredit bunga rendah, diharapkan roda perputaran ekonomi dapat berjalan dengan baik.

     

    Baca Juga: Cara Memperoleh Pinjaman Modal Usaha Untuk UMKM

     

    3. Menarik Kepercayaan Investor

    Selain kedua hal di atas, cara pencegahan resesi adalah dengan membuat kebijakan yang efektif dan diharapkan mampu menarik para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Sehingga, nantinya bisa tercipta perputaran ekonomi yang lebih baik lagi.

    Jangan Panik, Ini Dia Cara Menghadapi Resesi Ekonomi

    Melejitnya kata resesi di berbagai media dan platform online membuat masyarakat kian resah dan rasa panik mulai menghinggapi satu per satu masyarakat Indonesia. Ada banyak konten yang beredar tentang betapa seramnya situasi yang akan terjadi bila resesi datang.

    Namun, patut kita sadari jika tidak semua informasi yang beredar bisa dicerna secara mentah-mentah. Sebab, tidak sedikit dari informasi tersebut yang justru menakut-nakuti tanpa memberikan edukasi yang tepat, khususnya bagi masyarakat awam.

    Fenomena ini umumnya dikenal sebagai fear mongering, yaitu suatu tindakan dimana individu atau kelompok tertentu dengan sengaja memanfaatkan kerentanan orang lain terhadap suatu hal yang beresiko. Alhasil, orang yang merasa cemas atau takut akan semakin ketakutan dan bisa berujung pada terganggunya kesehatan mental, seperti depresi.

    Meskipun resesi adalah kata yang memiliki konotasi negatif, Anda tidak perlu panik. Berikut ini beberapa cara mengatur uang yang bisa Anda lakukan dalam menghadapi resesi ekonomi.

    1. Jangan Boros, Usahakan Untuk Berhemat

    Belilah kebutuhan seperlunya dan usahakan kebutuhan pokok terpenuhi dengan baik. Hal ini bertujuan agar dana yang tersisa bisa dialokasikan untuk hal lain yang lebih penting seperti melunasi hutang, menabung atau berinvestasi, serta mempersiapkan dana darurat.

    2. Melunasi Hutang yang Ada

    Usahakan untuk lebih konservatif terhadap hutang. Khususnya berhutang untuk tujuan konsumtif. Proporsi hutang atau debt service ratio yang sehat yaitu dibawah 30% dari penghasilan bulanan yang Anda miliki. Namun, karena Anda perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi resesi, ada baiknya proporsi tersebut diubah menjadi lebih kecil.

    Selain itu, pastikan hutang-hutang yang Anda miliki bisa segera dilunasi. Anda dapat memulainya dari hutang dengan bunga besar. Sebab, hutang dengan bunga besar akan sangat mempengaruhi arus kas Anda.

     

    Baca Juga: Wajib Tahu, Ini Dia Cara Perhitungan Pelunasan Kredit Dipercepat

     

    3. Siapkan Dana Darurat dan Asuransi

    Dana darurat yang perlu dipersiapkan idealnya 3-6 bulan dari jumlah pengeluaran bulanan Anda. hal ini dimaksudkan untuk berjaga-jaga jika hal buruk terjadi saat masa resesi tiba.

    Selanjutnya yaitu asuransi. Asuransi masih tetap diperlukan khususnya asuransi kesehatan untuk meminimalisir terganggunya kas keuangan saat tiba-tiba diperlukan dana dalam jumlah besar untuk masalah kesehatan.

    4. Mulai Mencari Pendapatan Tambahan

    Berhemat memang bisa membantu Anda dalam menjaga kondisi finansial yang tetap sehat. Namun, ada baiknya jika Anda juga memiliki pemasukan tambahan agar dana yang terkumpul bisa mencukupi kebutuhan mendadak yang mungkin terjadi kapan saja.

     

    Baca Juga: 10 Peluang Usaha Modal 10 Juta. Tertarik Untuk Mencoba?

     

    5. Berinvestasi dan Menabung

    Seperti halnya berhemat dan mencari penghasilan tambahan. Menabung dan investasi untuk menghadapi adanya resesi adalah sama pentingnya untuk memperkuat fondasi keuangan Anda. upayakan untuk menabung sedikit lebih banyak dari biasanya, terutama menabung untuk dana darurat.

     

    Baca Juga: 12 Cara Menabung dengan Cepat dan Tepat, Dijamin Kaya!

     

    6. Kelola Pos Keuangan dengan Efektif

    Supaya terhindar dari pemborosan, alangkah baiknya Anda mulai mengelola pos keuangan terutama pengeluaran. Pisahkan mana kebutuhan pokok dan keinginan.

    Harapannya, dengan mengelola pos keuangan ini Anda bisa lebih bijak dalam membelanjakan uang yang Anda miliki.

     

    Baca Juga: 7 Cara Mengatur Keuangan Pribadi dengan Cerdas dan Tepat

     

    7. Mengajukan Pinjaman Dana Untuk Hutang Produktif

    Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, salah satu cara yang bisa kita tempuh untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi resesi adalah dengan mencari penghasilan tambahan. 

    Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan. Misalnya dengan membuka usaha sendiri. Tidak harus dengan modal banyak, asalkan Anda konsisten dan tetap optimis, usaha apapun bisa menghasilkan omzet bulanan yang lumayan.

    Nah, bagi Anda yang berencana membuka usaha atau butuh tambahan modal, Anda bisa mengajukan pinjaman di BFI Finance. BFI Finance sudah terverifikasi OJK. Dengan mengajukan pinjaman di BFI Finance Anda akan memperoleh berbagai keuntungan. Diantaranya sebagai berikut.

    Jaminan BPKB Mobil

    Pencairan dana hingga 85% dari nilai kendaraan dan tenor hingga 3 tahun.

    Jaminan BPKB Motor

    Pinjaman dana dengan proses cepat dan tenor maksimal hingga 18 bulan.

    Jaminan Sertifikat Rumah

    Bunga rendah mulai dari 0.9% dengan tenor panjang hingga 48 bulan.

    Informasi selengkapnya terkait pinjaman maupun pertanyaan lebih lanjut dapat Anda akses melalui laman berikut ini.