• judi

    6 Dampak Negatif dari Gaya Hidup Boros dan Tips Menghindarinya!


    Merencanakan keuangan dengan baik dan benar memang selalu ada saja tantangan untuk dihadapinya. Entah itu datang dari godaan untuk berbelanja sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan atau dari kondisi tidak terduga yang menguras tabungan yang telah kita kumpulkan sejak lama. Pada kesempatan kali ini, tim BFI Finance membahas mengenai kebiasaan boros yang cukup mengganggu perencanaan keuangan kita. Melalui artikel dibawah ini, kami memberikan pemahaman mengenai apa saja dampak negatif dari gaya hidup boros dan bagaimana tips untuk menghindari kebiasaan boros tersebut. Dengan menjalankan gaya hidup hemat dan memenuhi kebutuhan sesuai porsinya, Anda memiliki peluang besar untuk menikmati masa depan yang nyaman dan bahagia.

    6 Dampak Negatif Dari Gaya Hidup Boros

    Berikut adalah enam dampak negatif dari gaya hidup boros yang perlu Anda waspadai:

    1. Tidak Bisa Menabung

    Dampak negatif dari gaya hidup boros yang pertama adalah tidak memiliki cukup uang untuk ditabung. Menabung adalah gaya hidup yang patut diajarkan sedari dini. Banyak sekali manfaat menabung antara lain yaitu menyiapkan masa depan yang lebih baik dan menjaga kestabilan kondisi keuangan.

    Dari penghasilan per bulan yang Anda terima, Anda dapat mengalokasikan paling tidak 10% untuk menabung. Anda dapat memisahkan rekening tersendiri untuk menabung agar tidak terpakai untuk kegiatan yang tidak direncanakan. Jika Anda melakukannya secara konsisten dan penuh komitmen, maka besar kemungkinan untuk Anda dapat mengumpulkan uang dengan cepat.

    2. Hutang dan Tagihan Menumpuk

    Berhutang bukanlah sesuatu hal yang dilarang. Namun, kita harus dapat menentukan secara bijak untuk apa kita berhutang. Apakah hutang itu untuk keperluan kredit produktif atau kredit konsumtif. Pastikan Anda memiliki dasar yang dapat diterima untuk meminjam sejumlah dana melalui pihak eksternal.

    Selain itu, hal yang dapat memicu tagihan dan hutang yang menumpuk yaitu berasal dari penggunaan kartu kredit. Kartu kredit memang memudahkan kita dalam mendapatkan aset lebih cepat, tetapi jika kita tidak bisa mengontrol penggunaannya secara bijak, berhati-hatilah jikalau suatu saat tagihan Anda menumpuk. Sehingga, mengerti bagaimana cara menggunakan kartu kredit yang benar adalah hal yang wajib kita pegang.

    Jika Anda tidak bisa mengelola hutang dan tagihan dengan baik, berbagai masalah baru dapat dipastikan akan muncul seperti stres berlebihan atau bahkan merepotkan orang lain.

    3. Tidak Memiliki Dana Darurat

    Dampak negatif dari gaya hidup boros lainnya yaitu tidak sempatnya seseorang mempersiapkan dana darurat. Dana darurat adalah dana yang disisihkan dari penghasilan yang Anda terima untuk mengantisipasi terjadinya keadaan atau kondisi yang tidak terduga seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), biaya kesehatan, kerusakan rumah, dan lain-lain. Dengan dana darurat, Anda dapat memenuhi kebutuhan finansial yang tidak terduga tanpa meminjam kepada kerabat atau keluarga Anda.

    4. Masa Tua Terancam

    Masa tua adalah masa dimana kita merasakan apa yang telah ditanam ketika muda. Berbagai persiapan dilakukan demi dapat merasakan masa tua yang nyaman dan bahagia, seperti menyiapkan dana pensiun, dana darurat, asuransi, dan lain sebagianya. Selalu miliki perencanaan keuangan yang kuat saat muda agar tidak terkena dampak negatif dari gaya hidup boros yang mengancam ini.

    5. Stres

    Dengan tagihan yang menumpuk, tidak memiliki dana darurat dapat menyebabkan perasaan stres lebih mudah muncul. Stres adalah dampak negatif dari gaya hidup boros yang mungkin paling mudah dan sering dirasakan. Tidak memiliki uang tetapi harus bertahan hidup seperti untuk memenuhi kebutuhan makan seharian, transportasi adalah contoh pemicu stres yang nyata. Jika Anda berhemat, besar kemungkinan untuk dapat terhindar dari stres berlebihan. Sebagai awalan menjalani hidup hemat mungkin akan terasa sulit, tetapi jika sudah menjalaninya dengan lama dan konsisten, maka akan terasa ringan dan terbiasa.

    6. Merasa Serba Kekurangan

    Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar, banyak orang yang memiliki gaji besar, namun hidupnya seperti tidak tenang. Hal tersebut merupakan salah satu dampak negatif dari gaya hidup boros. Padahal jika kita dapat mengelola gaji tersebut secara bijak, kita dapat terhindar dari kondisi serba kekurangan. Untuk mencegah dari kebiasaan boros tersebut, Anda dapat membuat pos-pos pengeluaran dan kebutuhan secara terperinci. Lakukan dan pantau secara konsisten agar kondisi keuangan yang sehat tetap terjaga.

    Dampak negatif dari gaya hidup boros

    Dampak negatif dari gaya hidup boros. Source: Freepik/gerain0812

    5 Tips Menghindari Gaya Hidup Boros

    Setelah Anda mengetahui berbagai dampak negatif dari gaya hidup boros, cobalah lakukan lima tips berikut ini untuk menghindari kebiasaan boros dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

    1. Membiasakan untuk Menabung

    Tips pertama untuk menghindari gaya hidup boros yaitu dengan membiasakan menabung setiap mendapatkan penghasilan yang Anda terima. Alokasikan paling tidak 10% dari penghasilan per bulan yang Anda terima. Dengan menabung secara secara konsisten dan penuh komitmen, maka niscaya Anda akan terhindar dari dampak negatif dari gaya hidup boros dan tabungan untuk masa depan Anda dapat terjamin.

    2. Bijak dalam Berbelanja

    Godaan untuk berbelanja sesuatu yang tidak dibutuhkan atau diperlukan memang kerap kali datang. Hal tersebut tentunya menjadi salah satu penghambat dalam perencanaan keuangan yang baik. Solusinya, Anda perlu membuat catatan mengenai barang dan kebutuhan apa saja yang perlu dibeli.

    3. Membiasakan Membawa Bekal Makanan dari Rumah

    Cara terhindar oleh dampak negatif dari gaya hidup boros lainnya yaitu dengan membiasakan membuata dan membawa bekal sendiri jika berpergian. Jika Anda bekerja sebagai karyawan kantoran, Anda dapat membawa bekal makan siang sendiri dibandingkan jika Anda mengeluarkan budget untuk makan siang diluar kantor. Jika Anda sudah berkeluarga dan memiliki anak yang telah bersekolah, siapkan bekal dari rumah agar anak tidak jajan sembarangan diluar sekolah. Tentunya, makanan yang disajikan dari rumah akan lebih higienis dan bergizi.

    4. Berbelanja Ketika Promo Diskon Tiba

    Tips selanjutnya untuk terhindar dari gaya hidup boros adalah dengan berbelanja ketika diskon berlangsung. Pilihan berbelanja dengan promo diskon kini kian mudah kita temukan.

    Biasanya supermarket mengadakan promo setiap harinya untuk item tertentu. Terkadang juga, diadakan promo khusus pemegang kartu debit atau kredit tertentu. Namun, jangan membuat promo diskon ini justru menjadi ajang untuk kalap dalam berbelanja ya. Tetap berbelanja sesuai dengan prioritas dan kebutuhan.

    5. Menjalankan Bisnis

    Cara terakhir untuk menghindari dampak negatif dari gaya hidup boros adalah dengan mencoba untuk menjalankan bisnis. Daripada uang habis untuk berbelanja sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan, alokasikanlah uang Anda untuk modal dalam berbisnis. Memang, dalam bisnis tidak selalu menghasilkan untung. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba dan menjadikannya sebagai pengalaman. Anda juga dapat berpartner dengan kerabat dalam menjalankan bisnis. Selalu lakukan riset yang mendalam ya Sobat BFI jika Anda ingin menjalankan suatu bisnis.

     

    Nah, seperti itulah keenam dampak negatif dari gaya hidup boros beserta tips untuk menghindarinya. Untuk memulai gaya hidup yang sehat secara finansial memang membutuhkan usaha dan terasa berat di awal, tetapi percayakan saja pada waktu dan usaha yang telah Anda berikan. Niscaya,  jika dilakukan secara konsisten dan penuh komitmen, Anda akan terhindar dari jebakan gaya hidup boros tersebut.

    Jika Anda ingin mengalokasikan uang yang Anda miliki sebagai modal dalam menjalankan bisnis dan membutuhkan modal tambahan, Anda dapat mengajukan modal tambahan usaha tersebut kepada BFI Finance! BFI Finance telah membantu dalam memenuhi kebutuhan finansial untuk ribuan pelanggan dari seluruh Indonesia. BFI Finance berdiri sejak tahun 1982 dan telah terdaftar dan diawasi oleh OJK, jadi jangan ragu untuk mengajukan pembiayaan modal usaha Anda melalui kami! Dengan berkembangnya dunia digital, kini mengajukan pembiayaan modal usaha pun semakin mudah, cukup klik tautan dibawah ini dan tim kami akan dengan cepat memroses pengajuan pinjaman Anda.

     

    Klik untuk pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Mobil

    Klik untuk pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Motor

    Klik untuk pengajuan Pinjaman Jaminan Sertifikat Rumah

     

    Selalu Ada Jalan, Bersama BFI Finance.

  • judi

    Resesi Adalah: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Cara Menghadapi


    Belakangan ini jagat maya dihebohkan dengan kata ‘resesi’. Saking populernya kata tersebut, banyak orang merasa was-was untuk menyambut tahun 2023. Tahun depan juga digadang-gadangkan sebagai tahun yang gelap.

    Resesi adalah istilah ekonomi yang menggambarkan perekonomian suatu negara yang diakibatkan oleh berbagai faktor.

    Apa itu resesi sebenarnya dan mengapa banyak orang sangat khawatir bilamana resesi benar-benar terjadi? Mari kita kupas satu persatu mengenai resesi di uraian berikut.

    Pengertian Resesi 

    Resesi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan dimana perputaran ekonomi suatu negara berubah menjadi lambat atau buruk. Perputaran ekonomi yang melambat ini bisa berlangsung cukup lama bahkan tahunan akibat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) suatu negara menurun selama dua kartal dan berlangsung secara terus menerus.

    PDB sendiri dapat diartikan sebagai aktivitas ekonomi suatu negara selama satu periode. Jadi, apabila suatu negara mengalami aktivitas ekonomi yang turun secara terus menerus selama dua periode, maka negara tersebut dapat dikatakan resesi.

    Sedangkan National Bureau of Economic Research (NBER) yang terletak di Amerika Serikat, mengartikan resesi sebagai kondisi dimana negara mengalami penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan dalam kurun waktu beberapa bulan dilihat dari PDB riil, penghasilan, tingkat pengangguran, produksi industri, penjualan grosir-ritel.

    Penyebab Terjadinya Resesi Ekonomi

    Ada beragam faktor yang memicu terjadinya resesi pada suatu negara. Faktor-faktor penyebab terjadinya resesi adalah sebagai berikut.

    1. Inflasi

    Inflasi adalah kondisi naiknya harga secara terus menerus, baik itu harga barang maupun jasa. Adanya kenaikan harga ini berimbas pada melemahnya daya beli masyarakat yang nantinya diikuti juga dengan penurunan produksi barang dan jasa.

    Jika dibiarkan dalam waktu lama, hal ini akan mengakibatkan tingginya angka pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masal, kemiskinan, dan terjadi resesi.

    2. Deflasi Berlebihan

    Seperti halnya inflasi, deflasi juga bisa membawa pengaruh yang buruk dan memicu terjadinya resesi. Deflasi adalah sebuah kondisi dimana harga barang dan jasa turun dari waktu ke waktu yang akhirnya berimbas pada upah yang dibayarkan mengalami penurunan.

    Deflasi juga ditandai dengan adanya penundaan pembelian barang atau jasa sampai harga terendah. Hal ini tentunya sangat beresiko bagi pemilik usaha. Sebab, meskipun daya beli masyarakat kemungkinan akan naik, nyatanya pemilik usaha harus menekan biaya produksi yang berujung pada ruginya suatu bisnis. 

    Jika masyarakat atau unit bisnis berhenti untuk melakukan aktivitas ekonomi seperti membelanjakan uangnya, bukan tidak mungkin kondisi ekonomi yang ada akan rusak.

    3. Gelembung Aset Pecah

    Penyebab berikutnya resesi adalah pecahnya gelembung aset. Hal ini bisa terjadi saat investor mengambil langkah secara gegabah.

    Misalnya, terjadi pembelian saham dan properti secara masif dengan anggapan harganya akan naik dengan cepat. Lalu, saat keadaan ekonomi tengah goyah, mereka akan beramai-ramai menjualnya yang mengakibatkan terjadinya panic selling dan berujung pada resesi akibat rusaknya pasar.

    4. Guncangan Ekonomi yang Mendadak

    Pemicu lain resesi adalah guncangan ekonomi secara mendadak. Hal ini ditandai dengan menurunnya daya beli yang disebabkan kesulitan finansial serta masalah serius lainnya seperti tumpukkan hutang.

    Hutang yang menumpuk akan mempengaruhi membengkaknya bunga yang perlu dibayarkan dan berujung pada ketidakmampuan untuk melunasinya atau gagal bayar. 

    5. Perkembangan Teknologi

    Resesi adalah kemerosotan ekonomi yang tidak hanya disebabkan dari aktivitas ekonomi itu sendiri. Perkembangan teknologi turut menjadi faktor adanya resesi. 

    Hal ini bisa terjadi karena adanya penurunan lapangan pekerjaan yang banyak digantikan oleh teknologi terkemuka seperti Artificial Intelligence (AI) dan robot. Alhasil, lapangan pekerjaan akan menurun drastis dan membuat angka pengangguran meningkat.

    6. Ketidakseimbangan Antara Produksi dan Konsumsi

    Ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi menjadi pemicu berikutnya. Barang dan jasa yang diproduksi secara berlebih dengan tingkat konsumsi atau daya beli yang menurun bisa membawa malapetaka bagi produsen.

    Hal ini mendorong terjadinya impor secara besar-besaran, membengkaknya pengeluaran perusahaan, dan menipisnya laba perusahaan dalam negeri.

    7. Pertumbuhan Ekonomi Mengalami Penurunan Selama Dua Kuartal Berturut-Turut

    Salah satu indikasi resesi adalah adanya penurunan pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut yang dinilai dari melemahnya Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara.

    8. Nilai Impor Lebih Besar dari Ekspor

    Indikasi lain terjadinya resesi adalah nilai impor suatu negara lebih besar ketimbang ekspor. Hal Ini bisa memberikan efek terhadap defisitnya anggaran negara dan terjadinya penurunan pendapatan nasional.

    9. Tingginya Tingkat Pengangguran

    Tingginya angka pengangguran suatu negara bisa mengindikasikan negara tersebut mengalami resesi. Sebab, tenaga kerja memiliki peran penting dalam perputaran perekonomian suatu negara.

    Apabila angka pengangguran meningkat secara terus menerus, hal ini akan mengakibatkan terjadinya tingkat kriminalitas yang ikut naik. 

    Secara garis besar, resesi adalah situasi yang muncul karena berbagai faktor. Misalnya krisis keuangan, salah mengambil keputusan perekonomian, adanya disrupsi rantai pasokan, disrupsi perdagangan eksternal, pecahnya gelembung ekonomi, sampai dengan faktor yang ada di luar kuasa manusia seperti bencana alam ataupun pandemi.

     

    Baca Juga: Mengenal Istilah Ekonomi Middle Income Trap dan Strategi Mengatasinya

     

    Dampak Adanya Resesi Ekonomi

    Dampak resesi adalah akibat yang muncul dan mempengaruhi beberapa pihak antara membawa dampak pada pemerintahan, perusahaan, dan para pekerja.

    1. Dampak Resesi Ekonomi Terhadap Pemerintahan

    Resesi ekonomi membawa dampak yang cukup berat bagi pemerintah. Saat kondisi ini terjadi tentunya angka pengangguran akan meningkat dan pemerintah dituntut untuk membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Alhasil, pinjaman pada bank asing kian meroket.

    Adanya resesi juga membuat pendapatan pajak dan non pajak menjadi rendah. Ini dikarenakan kondisi finansial masyarakat yang memburuk dan harga properti yang ikut turun. Sehingga, jumlah PPN (Pajak Pertambahan Nilai) yang masuk ke kas negara menjadi lebih sedikit. 

    Di sisi lain, pemerintah juga terus didorong untuk melakukan pembangunan di sektor pemerintahan. Salah satunya yaitu menjamin kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya semua tuntutan yang ada serta menurunnya pemasukan pendapatan pajak, membuat negara mengalami defisit anggaran dan utang pemerintah menjadi lebih tinggi.

    2. Dampak Resesi Ekonomi Terhadap Perusahaan

    Resesi adalah kondisi perekonomian yang mampu membuat perusahaan jatuh bangkrut. Hal Ini diakibatkan menurunnya daya beli masyarakat yang berimbas pada penurunan pendapatan perusahaan dan mengancam arus kas.

    Pada akhirnya, perusahaan akan memangkas biaya operasional dan menutup area bisnis yang kurang menguntungkan, sampai dengan mengambil keputusan berat untuk melakukan efisiensi pegawai (PHK).

    3. Dampak Resesi Ekonomi Terhadap Para Pekerja

    Adanya dampak resesi adalah dampak yang tidak hanya dirasakan oleh pemerintah dan perusahaan, akan tetapi para pekerja turut terkena imbasnya. 

    Area bisnis yang ditutup serta efisiensi pegawai yang dilakukan untuk menekan biaya operasional membuat banyak orang kehilangan pekerjaan akibat adanya PHK. Pekerja yang tidak terkena PHK pun ikut dirugikan dengan pemotongan upah yang didapat.

    Hal ini menjadi pendorong adanya ketidakstabilan sosial, kesenjangan yang semakin menjamur dimana-mana, dan tingkat kriminalitas yang tinggi.

    Resesi Adalah

    Image Source: Freepik

    Cara Pencegahan Resesi

    Resesi adalah keadaan yang cukup mengancam banyak sektor. Namun, bukan berarti resesi ekonomi tidak dapat dicegah. Berikut ini cara pencegahan resesi.

    1. Belanja Besar-Besaran Oleh Pemerintah

    Cara pencegahan resesi adalah dengan memperkuat daya beli. Strategi yang bisa diterapkan yaitu dengan belanja besar-besaran agar perputaran ekonomi tidak macet dan dunia usaha tergerak untuk bisa terus berinvestasi.

    2. Bantuan UMKM

    Resesi adalah krisis yang bisa terjadi pada banyak sektor salah satunya UMKM. dengan menyalurkan bantuan terhadap UMKM berupa UMKM produktif dan kredit bunga rendah, diharapkan roda perputaran ekonomi dapat berjalan dengan baik.

     

    Baca Juga: Cara Memperoleh Pinjaman Modal Usaha Untuk UMKM

     

    3. Menarik Kepercayaan Investor

    Selain kedua hal di atas, cara pencegahan resesi adalah dengan membuat kebijakan yang efektif dan diharapkan mampu menarik para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Sehingga, nantinya bisa tercipta perputaran ekonomi yang lebih baik lagi.

    Jangan Panik, Ini Dia Cara Menghadapi Resesi Ekonomi

    Melejitnya kata resesi di berbagai media dan platform online membuat masyarakat kian resah dan rasa panik mulai menghinggapi satu per satu masyarakat Indonesia. Ada banyak konten yang beredar tentang betapa seramnya situasi yang akan terjadi bila resesi datang.

    Namun, patut kita sadari jika tidak semua informasi yang beredar bisa dicerna secara mentah-mentah. Sebab, tidak sedikit dari informasi tersebut yang justru menakut-nakuti tanpa memberikan edukasi yang tepat, khususnya bagi masyarakat awam.

    Fenomena ini umumnya dikenal sebagai fear mongering, yaitu suatu tindakan dimana individu atau kelompok tertentu dengan sengaja memanfaatkan kerentanan orang lain terhadap suatu hal yang beresiko. Alhasil, orang yang merasa cemas atau takut akan semakin ketakutan dan bisa berujung pada terganggunya kesehatan mental, seperti depresi.

    Meskipun resesi adalah kata yang memiliki konotasi negatif, Anda tidak perlu panik. Berikut ini beberapa cara mengatur uang yang bisa Anda lakukan dalam menghadapi resesi ekonomi.

    1. Jangan Boros, Usahakan Untuk Berhemat

    Belilah kebutuhan seperlunya dan usahakan kebutuhan pokok terpenuhi dengan baik. Hal ini bertujuan agar dana yang tersisa bisa dialokasikan untuk hal lain yang lebih penting seperti melunasi hutang, menabung atau berinvestasi, serta mempersiapkan dana darurat.

    2. Melunasi Hutang yang Ada

    Usahakan untuk lebih konservatif terhadap hutang. Khususnya berhutang untuk tujuan konsumtif. Proporsi hutang atau debt service ratio yang sehat yaitu dibawah 30% dari penghasilan bulanan yang Anda miliki. Namun, karena Anda perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi resesi, ada baiknya proporsi tersebut diubah menjadi lebih kecil.

    Selain itu, pastikan hutang-hutang yang Anda miliki bisa segera dilunasi. Anda dapat memulainya dari hutang dengan bunga besar. Sebab, hutang dengan bunga besar akan sangat mempengaruhi arus kas Anda.

     

    Baca Juga: Wajib Tahu, Ini Dia Cara Perhitungan Pelunasan Kredit Dipercepat

     

    3. Siapkan Dana Darurat dan Asuransi

    Dana darurat yang perlu dipersiapkan idealnya 3-6 bulan dari jumlah pengeluaran bulanan Anda. hal ini dimaksudkan untuk berjaga-jaga jika hal buruk terjadi saat masa resesi tiba.

    Selanjutnya yaitu asuransi. Asuransi masih tetap diperlukan khususnya asuransi kesehatan untuk meminimalisir terganggunya kas keuangan saat tiba-tiba diperlukan dana dalam jumlah besar untuk masalah kesehatan.

    4. Mulai Mencari Pendapatan Tambahan

    Berhemat memang bisa membantu Anda dalam menjaga kondisi finansial yang tetap sehat. Namun, ada baiknya jika Anda juga memiliki pemasukan tambahan agar dana yang terkumpul bisa mencukupi kebutuhan mendadak yang mungkin terjadi kapan saja.

     

    Baca Juga: 10 Peluang Usaha Modal 10 Juta. Tertarik Untuk Mencoba?

     

    5. Berinvestasi dan Menabung

    Seperti halnya berhemat dan mencari penghasilan tambahan. Menabung dan investasi untuk menghadapi adanya resesi adalah sama pentingnya untuk memperkuat fondasi keuangan Anda. upayakan untuk menabung sedikit lebih banyak dari biasanya, terutama menabung untuk dana darurat.

     

    Baca Juga: 12 Cara Menabung dengan Cepat dan Tepat, Dijamin Kaya!

     

    6. Kelola Pos Keuangan dengan Efektif

    Supaya terhindar dari pemborosan, alangkah baiknya Anda mulai mengelola pos keuangan terutama pengeluaran. Pisahkan mana kebutuhan pokok dan keinginan.

    Harapannya, dengan mengelola pos keuangan ini Anda bisa lebih bijak dalam membelanjakan uang yang Anda miliki.

     

    Baca Juga: 7 Cara Mengatur Keuangan Pribadi dengan Cerdas dan Tepat

     

    7. Mengajukan Pinjaman Dana Untuk Hutang Produktif

    Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, salah satu cara yang bisa kita tempuh untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi resesi adalah dengan mencari penghasilan tambahan. 

    Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan. Misalnya dengan membuka usaha sendiri. Tidak harus dengan modal banyak, asalkan Anda konsisten dan tetap optimis, usaha apapun bisa menghasilkan omzet bulanan yang lumayan.

    Nah, bagi Anda yang berencana membuka usaha atau butuh tambahan modal, Anda bisa mengajukan pinjaman di BFI Finance. BFI Finance sudah terverifikasi OJK. Dengan mengajukan pinjaman di BFI Finance Anda akan memperoleh berbagai keuntungan. Diantaranya sebagai berikut.

    Jaminan BPKB Mobil

    Pencairan dana hingga 85% dari nilai kendaraan dan tenor hingga 3 tahun.

    Jaminan BPKB Motor

    Pinjaman dana dengan proses cepat dan tenor maksimal hingga 18 bulan.

    Jaminan Sertifikat Rumah

    Bunga rendah mulai dari 0.9% dengan tenor panjang hingga 48 bulan.

    Informasi selengkapnya terkait pinjaman maupun pertanyaan lebih lanjut dapat Anda akses melalui laman berikut ini.